Menurut pakar seksualitas Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd FAACS seperti dalam bukunya Seks yang Membahagiakan, disfungsi seksual pada pria dapat dikelompokkan menjadi gangguan dorongan seksual (dorongan seksual hipoaktif dan gangguan aversi seksual), gangguan ereksi (disfungsi ereksi dan ereksi berkepanjangan), gangguan ejakulasi (ejakulasi dini & ejakulasi terhambat), disfungsi orgasme dan dispareunia.
Gangguan dorongan seksual berarti dorongan seksual atau gairah seksual tertekan atau hilang sama sekali. Kalau menjadi aversi seksual berarti telah menimbulkan perasaan tidak suka, bahkan takut melakukan aktivitas seksual sehingga cenderung menghindar dan menolak, ulasnya.
Sementara itu, sambung Wimpie, disfungsi ereksi menunjukkan gangguan ereksi sehingga tidak mampu berhubungan seksual dengan baik. Ereksi berkepanjangan berarti ereksi yang terjadi dalam waktu sangat lama, sampai sekira empat jam. Gangguan ejakulasi dapat berupa ejakulasi yang terlampau cepat dan tidak dapat dikontrol, yang disebut ejakulasi dini. Sebaliknya, ejakulasi terhambat, yaitu ejakulasi yang tidak dapat terjadi di dalam Miss V, tetapi dengan cara lain dapat terjadi.
Bagaimana dengan disfungsi orgasme? Artinya, kegagalan merasakan sensasi kenikmatan seksual, yaitu orgasme. Disfungsi seksual ini sangat jarang dijumpai pada pria. Pada umumnya pria mampu mencapai orgasme setiap kali berhubungan seksual atau menerima rangsangan seksual yang cukup, jelasnya.
Nah, dispareunia sendiri dijelaskan Wimpi sebagai hubungan seksual yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin dan sekitarnya. Pada pria rasa sakit ketika berhubungan seksual umumnya disebabkan oleh infeksi pada organ kelamin.
(tty)
Sumber : www.okezone.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar